Halaman

Selasa, 19 November 2013

Akuntansi Biaya: Ragam Metode Costing (Keunggulan dan Kelemahannya)

Akuntansi biaya (cost accounting) termasuk aspek penting dalam dunia akuntansi. Salah satu aktivitas yang paling fundamental dalam akuntansi biaya adalah penentuan biaya (costing)—yang dijadikan sebagai acuan dasar dalam menentukan harga jual produk/jasa. Esensi dari penentuan biaya (costing), tiada lain, merupakan aktivitas memilih dan menjalankan metode costing yang paling sesuai bagi perusahaan—mulai dari pengumpulan data, pengolahan data, hingga penyajian laporan cost bagi pihak management.
Fungsi akuntansi biaya yang terkelola dengan baik, dapat memberikan informasi penting bagi manajemen sehubungan dengan: pengaruh dari penentuan harga jual suatu produk, kecenderunga cost, kinerja per departemen dan perusahaan secara keseluruhan, kapasitas pegawai dan produksi, bahkan berkontribusi besar terhadap penentuan strategi bisnis perusahaan hingga pada derajat tertentu.
Setengah dari alur akuntansi, di dalam perusahaan, ada di wilayah costing. Sehingga, bagi akuntan yang bekerja di dalam perusahaan (terutama manufaktur), kurangnya penguasaan akuntansi biaya adalah masalah serius, lubang kelemahan yang harus segara diatasi jika ingin menjadi akuntan yang handal di luar urusan jurnal-menjurnal dan penyusunan laporan keuangan.
Apakah cost accounting hanya urusan para cost accountant—sehingga mereka yang sudah ada di management/executive level dikecualikan? Justru chief accountant, controller dan CFO-lah yang paling berkepentingan terhadap pemilihan dan penerapan akuntansi biaya di dalam perusahaan yang mereka kelola. Merekalah yang harus menilai, menentukan, mengawasi, mengevaluasi dan mengubah metode costing yang diterapkan—jika dirasa perlu, agar tujuan perusahaan bisa dicapai dengan lebih efektif.
Bagaimana dengan akuntan publik dan para auditor? Merekapun wajib menguasai akuntansi biaya—kecuali bisa menghindar setiap kali diberi tugas memeriksa perusahaan manufaktur. Salah satu proses penting dalam auditing adalah melakukan cross-check terhadap arus uang, arus dokumen dan arus barang. Tanpa penguasaan akuntansi biaya yang mumpuni, mungkin mereka masih bisa memberikan pendapat, tetapi saya yakin judgement yang digunakan untuk mendukung pendapat itu akan sangat lemah.
Cakupan dari akuntansi biaya lumayan luas, tetapi intinya selalu berada di wilayah costing. Dan, seperti sudah saya sampaikan di awal tulisan, esensi dari penentuan biaya (costing) adalah: memilih dan menerapkan metode costing yang paling sesuai bagi karakter opersional perusahaan.
“Sesuai” yang saya maksudkan dalam hal ini adalah: bisa menghasilkan data yang paling akurat dan berdayaguna tinggi bagi proses pengambilan keputusan sehubungan dengan cost.
Ada beragam metode penentuan biaya (costing method) yang bisa diterapkan untuk mengumpulkan dan mengolah data-data cost: mulai dari job costing, process costing, standard costing, target costing, direct costing, dan lain sebagainya. Sehingga, seseorang yang ingin mumpuni dalam akuntansi biaya kudu mahir dalam menggunakan metode-metode tersebut.
Sebagai perkenalan di wilayah akuntansi biaya (cost accounting), saya akan mulai dengan membahas beragam metode costing—beserta kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tetapi sebelum itu, ada hal yang penting untuk saya sampaikan, terutama mengenai pentingnya memilih metode costing yang paling sesuai untuk perusahaan.

Untuk Akuntansi Biaya Yang Lebih Baik, Abaikan Prinsip dan Standard Akuntansi

 Rasanya saya tidak perlu lagi membahas mengenai peranan akuntansi di dalam lingkungan binis, semua akuntan rata-rata sudah tahu akan hal itu. TETAPI, dari pengalaman saya mensupervisi bagian accounting dan keuangan di beberapa perusahaan, saya menemukan:
  • Rata-rata, para akuntan sangat jarang berpikir tentang: bagaimana caranya memaksimalkan peranan cost accounting untuk menghasilkan informasi cost yang dapat dijadikan sebagai input dalam proses pengambilan keputusan—yang pada akhirnya dapat mengarahkan operasional perusahaan menuju pencapian tingkat profitabilitas maksimal.
  • Rata-rata, para akuntan hanya berkutat diseputaran masalah mengenai: bagimana caranya agar cost yang dihasilkan dari proses akuntansi biaya dapat dimasukan ke dalam Laporan Keuangan.
Orientasi para akuntan, entah mengapa, sebagian besar masih saja menitikberatkan fokus pada laporan keuangan. Padahal, laporan keuangan hanya setumpuk kertas yang tidak ada artinya bila tidak dapat memberikan informasi yang bersifat incremental bagi pengelolaan suatu binis (entitas).
Saya memperkirakan, hal itu disebabkan oleh kuatnya pengaruh doktrin bawaan sejak di bangku kuliah—yang sedikit-sedikit prinsip akuntansi berterima umum (GAAP), sedikit-sedikit standar akuntansi, seakan-akan dunia ini akan bubar jika prinsip akuntansi dilanggar, dimanapun dan dalam konteks apapun.
Saya menghabiskan 5 tahun untuk meraih gelar sarjana akuntansi, ditambah 1 tahun pendalaman profesi dan belajar kode-etik, belum lagi ditambah bertahun-tahun menghabiskan waktu di KAP. Tanpa standard dan kode-etik, mana bisa menjadi akuntan profesional? Sorry, saya ingin jadi akuntan profesional, bukan pegawai accounting abal-abal yang cuma lulusan SMEA, seperti anda.”
Oh.. hi, hello Mr. Professional Accountant :D kalau demikian halnya, saya ucapkan goodluck.
Dalam pemahaman saya (mohon dikoreksi jika keliru), PRINSIP dan STANDAR AKUNTANSI adalah petunjuk mengenai cara mengukur, mengakui dan menyajikan laporan keuangan perusahaan, agar fair bagi semua pihak yang berkepentingan—terutama bagi investor/shareholders (mohon ditambahkan jika ada yang kurang).
SEMENTARA, disamping sebagai bahasa bisnis, akuntansi adalah alat (tool) untuk menghasilkan informasi yang bisa digunakan sebagai input dalam pengambilan keputusan bisnis, TERMASUK keputusan-keputusan binis yang diambil oleh management internal perusahaan. Dan, input yang lebih banyak dibutuhkan dalam proses pengambilan keputusan bisnis oleh management perusahaan, adalah informasi-informasi terkait dengan cost atas produk/jasa yang dihasilkan.
Okelah, sebagian akuntan (terutama akuntan publik) sudah pasti orientasinya adalah stakeholders di luar management—terutama shareholdera. Pemeriksaan kepatuhan pelaporan keuangan (auditing), sebagian besar dimaksudkan untuk menilai seberapa “fair” laporan keuangan yang disajikan oleh perusahaan bagi para pemegang saham. Dengan ‘mantra’ yang mungkin lebih familiar: “apakah proses pengukuran, pengakuan dan penyajian informasi keuangan sudah sesuai standard?”
Sampai pada ‘pialang saham’ dan ‘analyst pasar modal’ mungkin masih peduli terhadap angka-angka lapora keuangan—untuk diolah menjadi rasio-rasio keuangan yang bisa digunakan untuk menjaring para pemain bursa saham—dan para pengambil keuntungan jangka-pendek lainnya. Middle-men macam business valuators yang dilibatkan dalam due diligent proses akuisi dan merger, mungkin juga masih peduli.
TETAPI, shareholders (investor yang sesungguhnya) tidak terlalu ambil pusing hal-hal lain, selain dividend. Bagi shareholders, laba-rugi dan retained earning tak lebih dari ASUMSI, PENDAPAT dan INTERPRETASI, yang samasekali USELESS, jika tidak bisa diconvert menjadi kas masuk ke pundi-pundi mereka (dalam bentuk pembagian dividend). Sedangkan audit assignment dibutuhkan hanya untuk 3 alasan: (a) formalitas permintaan Bappepam; (b) shareholders tidak percaya denga assersi management (penyajian laporan keuangan); dan (c) permintaan perusahaan untuk membangun citra kredibilitas—yang tentu saja hanya untuk keperluan public-relation semata. Tidak ada yang bersifat nyata dan incremental.
Boleh jadi profitabilitas capital market meningkat—dari hasil pembangunan citra dan public-relation effort lainnya, tetapi itu hanya akan menjadi angka-angka VIRTUAL belaka JIKA perusahaan TIDAK menghasilkan keuntungan yang nyata dari product market-nya—sehingga yang terjadi dalam aggregate ekonomi (makro) hanya perpindahan angka-angka lembar saham yang samasekali tidak berkontribusi nyata bagi penciptaan nilai tambah (value added) dalam suatu negara, pada wilayah yang lebih luas.
Sehingga, bagi saya (seorang pegawai accounting abal-abal tamatan SMEA)—yang pemahaman akuntansinya tentu masih dangkal, usaha-usaha mengoptimalkan fungsi akuntansi untuk meningkatkan efektifitas dan produktifitas opersional binis, TAK KALAH PENTINGNYA jika dibandingkan dengan usaha-usaha untuk taat dan tunduk tehadap prinsip/standar akuntansi yang ada. Lebih bagus lagi, jika keduanya bisa bersinergi.
Target utama saya, dalam costing, adalah menyediakan informasi cost yang bisa menjadi input bermanfaat dalam proses pengambilan keputusan oleh manajemen perusahaan. Dan untuk mencapai target itu, seringkali saya harus melakukan tweak dan kustomisasi, membuat hybrid-system yang paling sesuai bagi karakter operasional perusahaan.
Misalnya:
Untuk decision-making yang lebih akurat sehubungan dengan harga dari tambahan unit produk terjual (biasanya harga yang paling mendekati direct cost), saya harus menggunakan incremental cost yang timbul pada setiap tambahan unit produk yang dihasilkan. Nah, jika harus mematuhi standard akuntansi, menggunakan metode penentuan biaya yang hanya mengalokasikan porsi overhead cost ke dalam product cost akan membuat saya kesulitan—meskipun untuk yang tergolong bukan incremental cost.
Dalam konteks yang lebih sempit, demi untuk meningkatkan dayaguna informasi cost yang dihasilkan dari proses akuntansi biaya, dalam banyak hal saya memilih untuk DENGAN SENGAJA mengabaikan prinsip/standar akuntansi yang ada. Khusus di wilayah costing, jika terpaksa, saya memilih untuk menomorduakan GAAP, tidak kenal PSAK, aturan Bappepam, dan regulasi sejenisnya.
Begitulah cara pandang saya mengenai pentingnya proses pemilihan dan penerapan metode costing secara khusus—dan cost accounting dalam cakupan lebih luas, yang lebih banyak berfokus pada pertimbangan: bagimana caranya mendayagunakan cost accounting untuk bisa memberi manfaat maksimal bagi pengelolaan bisnis, ketimbang sekedar bisa memasukan unsur cost ke dalam laporan keuangan.
Selanjutnya, mari kita lihat, satu-per-satu, ragam metode costing—beserta keunggulan dan kelemahannya masing-masing.

Macam Motode Costing Beserta Keunggulan dan Kelemahannya

Secara konsep, ada tujuh metode costing yang paling lumrah digunakan, sesuai dengan karakter perusahaan masing-masing:
1. Job Costing – Job costing melibatkan serangkaian transaksi-transaksi yang mengakumulasikan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan overhead untuk satu unit aktivitas yang disebut dengan “Job Order” (JO). Metode ini biasanya diterapkan dalam ligkungan manufaktur yang memproduksi barang pesanan—dalam pengertian, design, fitur dan spesifikasi lainya ditentukan oleh pemesan. Untuk masing-masing kategori, cost diakumulasikan melalui serangkian transaksi-transaksi, sebelum di bebankan (charged) ke “Job Order” tertentu.
  • Keunggulan: Sangat bagus untuk menelusuri cost per unit produk, bisa menghasilkan informasi yang lebih akurat, jika dibandingkan dengan metode lain. Job costing disebut-sebut sebagai metode penentuan cost yang paling efektif dan valid untuk mengakumulasikan biaya kesepakatan kontraktual cost-plus.
  • Kelemahan: It requires a large quantity of detailed data collection and data entry, which is expensive. It also runs the risk of including some inaccurate data, which requires expensive control systems to minimize. Furthermore, there may be a significant allocation of overhead costs to each job, which may be inaccurately applied.
2. Process Costing – Lumrah diterapkan pada lingkungan perusahaaan dimana variasi produk yang dibuat sedikit atau bahkan bersifat tunggal—dalam pengertian: jenis barang, ukuran, material, mesin/alat, metode produksi, dan sumberdaya manusia yang digunakan relative sama. Dalam situasi ini, adalah sangat sulit untuk membedakan biaya produk satu-per-satu. Misal: perusahaan refiner (pemurnian), adalah sangat sulit untuk menelusuri biaya yang keluar untuk masing-masing galon minyak yang digunakan. Metode yang paling lumrah dipergunakan untuk menghitung cost per-unit dalam proses costing adalah dengan cara mengakumulasikan semua biaya terkait dengan proses produksi dalam suatu periode, selanjutnya ‘weighted average’ cost per-unit dihitung berdasarkan total total cost terakumulasi tersebut.
  • Keunggulan: Data cost dikumpulkan menjadi satu untuk keseluruhan periode produksi yang kemudian dialokasikan ke volume produksi yang dijalakan dalam satu periode, menghasilan cost per-unit rata-rata yang relative akurat, tetapi tidak seakurat job costing. Metode ini relatif cepat dan memerlukan tenaga yang relative lebih kecil jika dibandingkan metode lain.
  • Kelemahan: Cost per-unit yang dihasilkan adalah cost rata-rata yang tentu saja tidak terlalu akurat. Disamping itu, khususnya saat menentukan volume produksi yang diproses, perusahaan sering menggunakan estimasi—karena sebagian barang mungkin belum benar-benar selesai diproduksi.
3. Direct Costing – Direct cost adalah cost yang terasosiasi langsung dengan perubahan volume produksi. Pengertian direct cost ini, berhubungan erat dengan bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung, tapi tidak dengan mesin. Misal: bahan baku yang digunakan untuk membuat produk dan upah tenaga kerja untuk proses pembuatan barang adalah direct cost, tetapi biaya-biaya sehubungan dengan mesin yang digunakan untuk berproduksi bukan direct cost—karena mesinnya masih tetap di pabrik terlepas dari perubahan volume produksi. Dengan kata lain, overhead tidak diikutsertakan dalam perhitungan costing.
  • Keunggulan: Metode ini biasanya disukai oleh management yang ogah terus-menerus membuat perhitungan cost setiap kali ada penambahan volume produksi—terlebih-lebih jika ada item produk baru. Bagaimanapun juga proses penentuan cost memang mengkonsumsi waktu, tenaga dan pikiran. Jika tidak mau repot membuat costing setiap ada penambahan volume produksi atau produk baru, direct costing memang pilihan yang paling nyaman. Disamping itu, direct costing juga paling ideal saat dipakai untuk menentukan harga termurah yang bisa ditawarkan—dengan harapan dapat menjual lebih banyak, misalnya.
  • Kelemahan: Dalam jangka pendek, penentuan cost (untuk pada akhirnya menentukan harga jual) dengan menggunakan metode direct memang masih bisa, tetapi tidak untuk jangka panjang. Kian lama cost yang dihasilkan akan kian tidak akurat, akibat tidak diikutsertakannya overheda dalam perhitungan costing.
4. Throughput Costing (Accounting) – Metode yang satu ini berfokus pada maksimalisasi kapasitas (orang dan produksi), yang sesungguhnya tiada lain merupakan variasi atau pengembangan dari direct costing. Metode ini mengasumsikan bahwa: selalu ada kemacetan operasional (lumrah disebut “bottleneck operation”) dalam proses produksi—yang menghambat kecepatan (speed) penyelesaian barang. Masalah kemacetan inilah yang kemudian menjadi dasar pertimbangan untuk menentukan barang mana yang sebaiknya diproduksi terlebih dahulu dan mana yang belakangan—karena masing-masing akan menghasilkan tingkat profitabilitas yang berbeda. Pada dasarnya, metode ini hanya mengikutsertakan bahan baku sebagai komponen utama dalam pertimbangan decision-making sehubungan dengan cost, sementara biaya tenaga kerja tidak.
  • Keunggulan: throughput costing bisa meningkatkan profitabilitas dalam jangka pendek secara maksimal, jika perusahaan benar-benar mengelola bottleneck kapasitas (baik fasilitas maupun sumberdaya manusia) dengan baik dan disiplin—sesuai dengan apa yang ditunjukan oleh cost analysis yang dihasilkan oleh metode tersebut—sehingga contribution margin yang paling maksimal bisa dicapai.
  • Kelemahan: Adanya peringkat prioritas (fokus pada produk yang kemungkinan menghasilkan tingkat profitabilitas paling tinggi), dalam jangka panjang akan menimbulka hubungan yang tidak baik dengan pihak pelanggan, yang cepat atau lambat akan menimbulkan masalah yang tak kalah seriusnya dengan profitabilitas—kecuali perusahaan benar-benar bisa hidup hanya dengan memproduksi produk-produk yang memiliki profitabilitas tinggi.
5. Activity-based Costing (ABC) – Metode penentuan cost dengan ABC system dirancang untuk mengarahkan agar setiap biaya overhead yang timbul bisa dihubungkan (atau dikaitkan) aktivitas tertentu untuk suatu produk dan departemen/bagian/seksi tertentu di dalam perusahaan—yang nantinya bisa menjadi sumber informasi utama bagi manajemen untuk mengetahui: di wilayah mana overhead banyak digunakan? Untuk aktivitas apa saja? Dan, untuk produk apa (yang mana)?
  • Keunggulan: Metode costing dengan ABC system adalah jawaban atas kelemahan yang terjadi di direct costing maupun throughput costing. Dengan ABC system, management dapat melakukan kontrol yang lebih baik terhadap overhead, sekaligus dapat mengetahui aktivitas untuk produk mana yang mengkonsumsi overhead lebih banyak.
  • Kelemahan: ABC system memerlukan pemahaman system operasi sekalgus costing dari setiap aktivitas di dalam perusahaan. Disamping itu, penerapan ABC system membutuhkan tenaga, waktu dan komitmen yang tinggi dari semua personel—mulai dari tingkat pelaksana hingga management, dan ini bukan sesuatu yang mudah dicapai. Khusus di system akuntansinya, ABC system memerlukan data base yang luar biasa detail—setup awalnya saja bisa memakan waktu lebih dari satu tahun untuk perusahaan bersakal menengah, belum lagi maintenancenya. Bayangkan, setiap item produk baru pastinya membutuhkan aktivitas yang agak berbeda (meskipun tidak terlalu jauh), menggunakan tools yang berbeda, setup mesin yang berbeda, dan semua itu harus dikonstruksi di data base system. Oleh sebab itu, untuk perusahaan yang aktivitas produksinya tidak terlalu massif (dengan variance produk yang tidak terlalu banyak), saya tidak pernah merekomendasikan penerapan ABC system.
6. Standard Costing – Standard costing termasuk yang cukup populer digunakan. Langkah pertama yang dilakukan dalam menerapkan metode ini adalah dengan menentukan “standard cost”—per satu jenis aktivitas–untuk masing-masing jenis produk yang akan diproduksi. Saya pribadi banyak menerapakan standard cost (yang saya kombinasikan dengan beberapa metode lain). Untuk penerapan standard cost saya menugasi engineer di research & development membuat standard untuk direct labor cost, officer di bagian purchasing—bersama-sama dengan engineer bag produksi—membuat standard untuk penggunaan bahan baku dan bahan penolong, sedangkan standard untuk overhead cost saya tugaskan ke cost accountant. Standard di masing-masing aktivitas tersebut kemudian dijadikan satu oleh cost accountant (bersama-sama dengan enginner di R&D), maka terbentulah Bill of Material (BOM) yang tiada lain adalah “standard cost” per satu jenis barang yang diproduksi. Setiap kali suatu aktivitas dijalankan, akan menimbulkan perbedaan antara standard cost (yang ada di BOM), selisih tersebut saya kanalkan (secara otomatis) ke akun yang saya sebut dengan “variance”—yang sewaktu-waktu bisa saya gunaka untuk menilai tingkat efisiensi dan efektivitas suatu aktivitas, termasuk mengukur profitabilitas produk yang sedang dikembangkan.
  • Keunggulan: Metode standard costing sangat ampuh untuk digunakan untuk melakukan pengendalian cost di semua lini perusahaan. Dengan metode ini, nyaris setiap aktivitas bisa diukur tingkat efisiensinya. Satu-satunya PR follow up yang penting dalam penerapan metode standard costing adalah: mencari-tahu alasan yang menyebabkan timbulnya variance, dan pengalaman saya menunjukan ini bagia yang tersulit.
  • Kelemahan: Standard costing menghabiskan banyak energi dan waktu, khususnya di awal-awal—saat standard di buat. Dan pembentukan standard ini akan terus terjadi setiap ada produk baru yang dikembangkan. Dan Penentuan standard cost seringkali menjadi sesuatu yang tricky—pada titik tertentu para operator/pelsakana dan manager sering dihadapkan pada pilihan antara memenuhi standard atau meningkatkan kwalitas produk yang dihasilkan. Ini membutuhkan resolusi yang benar-benar komprehensive, sehingga tidak perlu timbul tindakan saling menyalahkan ketika variance yang cukup besar muncul ke permukaan di kemudian harinya.
7. Target Costing – Keenam metode costing yang saya sebutkan sebelumnya, semuanya berfokus pada interpretasi data cost setelah terjadi. Target costing menggunakan pendekatan sebaliknya—data cost ditentukan (dipatok) terlebih dahulu untuk kemudian diikuti oleh semua aktivitas di dalam perusahaan. Konkretnya, management—melalui serangkaian proses riset—mempelajari kondisi pasar (baik expektasi customer maupun tingkat kompetisi) terlebih dahulu, untuk menentukan “target cost.” Selanjutnya, produk dirancang mengikuti skema target cost yang telah ditentukan. Mulai dari proses perancangan dan proses produksi yang sesungguhnya, usaha-usaha untuk meningkatkan efisiensi terus dilakukan, sehingga target cost yang diharapkan bisa dicapai. Bisa dibilang, ini model market-oriented costing.
  • Keunggulan: Model market-oriented dari metode target costing sangat bagus diterapkan pada produksi barang yang memiliki tingkat kompetisi yang tinggi di pasaran (consumer goods, apparels dan electronics misalnya).
  • Kelemahan: Satu-satunya kelemahan metode target costing ini adalah lamanya waktu yang dibutuhkan untuk melakukan riset dan perancangan produk—yang jika tidak dilakukan dengan time table yang ketat, bisa keteteran dalam menghadapi laju perubahan time-value money dan inflasi dalam jangka panjang. Proses yang panjang ini otomatis memakan waktu dan tenaga yang besar. Saya pribadi meng-hybrid-kan metode ini dengan standard costing. Target costing saya gunakan khusus untuk produk baru yang belum memiliki segment pasar pasti (untuk keperluan infiltrasi pasar).
 Secara keseluruhan, pemilihin metode costing sangat berpengaruh terhadap informasi cost yang digunakan dalam proses pengambilan keputusan oleh mangement perusahaan (untuk keperluan  product pricing dan costing), berkaitan langsung dengan tingkat profitabilitas perushaan dalam skala yang lebih luas. Oleh sebab itu, saya selalu menganjurkan agar, pemilihan metode costing benar-benar dilakukan dengan “management’s interest in mind”, bukan yang lainnya. Dengan costing best practices yang baik, cost accounting akan bisa berdaya guna secara maksimal. Berusaha mengkombinasikan beberapa metode costing, selalu baik—dengan catatan: disesuaikan dengan karakter produk, kapasitas produksi dan organization behavioral lainnya. Selamat berakhir pekan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar